Dari Candaan Jadi Viral: Kisah Deni Setiawan, Si “Kadal Taichung” Jadi Selebgram Favorit PMI

TAIWAN, MEDIANETRAL.COM – Kalau lagi lewat di sekitar pabrik baja Xitun, Taichung, jangan kaget kalau lihat pengendara motor pakai helm tempel bebek mainan. Itulah Deni Setiawan, umur 28 tahun, atau yang lebih dikenal para PMI sebagai “Kadal Taichung”. Minggu 10/05/26, dan slogannya yang lagi viral , Cintien hao pahao.. mingtien…pucetao (今天好不好..明天不知道)

Siapa sangka, nama nyeleneh “kadal” itu berawal dari tren di sosial media pada tahun 2018. Untuk nama belakang “Taichung” itu . Karena kerja di daerah Taichung jadilah julukan kadal Taichung Lambat laun, “Kadal Taichung” jadi identitas.

Awalnya cuma buat lucu-lucuan candaan teman-teman, Tapi tahun 2025, kontennya meledak. Ciri khasnya sederhana: helm yang ditempeli bebek karet, logat Banyumasan yang kental, dan gaya ngomong apa adanya. Nggak ada skrip. Lucunya yang alami.

“Konten saya ya sehari-hari. Mengibur orang, kadang bertanya ke teman di sosial medianya pake bahasa mandarin campur jawa,” ujarnya.

Di balik konten kocak itu, Deni ternyata punya cerita yang bikin tepuk tangan. Anak bontot dari 4 bersaudara asal Desa Cingebul, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini sudah 8 tahun kerja di Taiwan.

Dari hasil kerja kerasnya Deni Setiawan tidak untuk foya-foya, ia membeli sebidang sawah dan tanah di kampung halaman.

 “Buat tabungan masa depan. Biar kalau pulang nggak mulai dari nol lagi,” katanya dengan nada serius.

Sikapnya yang ramah dan sopan “Kadal Taichung” semakin disayang dan di Kagumi banyak PMI, terutama emak emak, di kolom komentarnya penuh doa dan dukungan netizen.

“Saya nggak mau jadi selebgram yang sombong. Di sini kita semua sama, sama-sama perantau. Kalau bisa menghibur diri dan gak bikin kangen rumah, ini sudah cukup,” ucapnya.

Kini, helm bebek itu sudah jadi merek dagang. Banyak PMI yang minta foto bareng kalau ketemu Deni di jalan. Dari candaan teman Cintien hao pahao.. mingtien pucetao (今天好不好,明天不知道), jadi identitas, jadi ladang rezeki, bahkan jadi pengingat bahwa kerja di rantau bisa jadi berkah kalau dijalani dengan jujur dan rendah hati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Komentar