Di Penghujung Ramadhan: Penyesalan Seorang Hamba Yang Lalai Oleh Dunia 

INDRAMAYU, MEDIANETRAL.COM –Ramadan adalah bulan yang datang membawa rahmat, ampunan, dan kesempatan yang sangat besar bagi manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Ia hadir seperti cahaya yang menerangi hati yang selama ini tertutup oleh kesibukan dunia. Namun sebagaimana waktu yang terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun, Ramadan pun perlahan sampai pada penghujungnya.

Di saat-saat seperti ini, hati seorang mukmin sering dipenuhi dengan perasaan yang bercampur antara haru, rindu, dan penyesalan. Haru karena Ramadan yang penuh berkah akan segera pergi, rindu karena suasana ibadah yang begitu menenangkan jiwa akan berlalu, dan penyesalan karena merasa belum banyak berbuat kebaikan selama bulan yang mulia ini.

Ramadan seharusnya menjadi waktu terbaik bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di bulan inilah pintu-pintu rahmat dibuka, dosa-dosa diampuni, dan pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Namun tidak semua orang mampu memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

Kesibukan dunia sering kali membuat manusia lalai. Urusan pekerjaan, harta, jabatan, dan berbagai kepentingan duniawi sering kali menyita perhatian sehingga waktu untuk beribadah menjadi semakin sedikit. Tanpa disadari, hari demi hari Ramadan pun berlalu begitu saja.

Padahal Allah SWT telah menjelaskan tujuan puasa dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.*

> (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Ketakwaan adalah keadaan ketika hati selalu ingat kepada Allah, takut melakukan dosa, dan berusaha menjalani hidup sesuai dengan petunjuk-Nya. Namun sering kali manusia baru menyadari betapa berharganya Ramadan ketika bulan itu hampir berlalu.

Di penghujung Ramadan, seseorang mulai mengingat kembali hari-hari yang telah dilewatinya. Ia menyadari bahwa waktu yang begitu berharga telah banyak terbuang. Niat untuk memperbanyak membaca Al-Quran mungkin tidak terlaksana. Keinginan untuk bangun di malam hari mungkin sering dikalahkan oleh rasa lelah dan kantuk. Kesempatan untuk bersedekah dan berbuat baik mungkin tidak dimanfaatkan sepenuhnya. Dari kesadaran itulah lahir penyesalan.

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Sungguh merugi seseorang yang mendapati Ramadan, lalu Ramadan berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan betapa besar kerugian bagi seseorang yang melewati Ramadan tanpa memperoleh ampunan dari Allah. Padahal bulan ini adalah kesempatan yang sangat luas untuk memperbaiki diri.

Kesibukan dunia sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah. Manusia memang harus bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan berbagai tanggung jawab kehidupan. Namun masalah muncul ketika dunia menjadi begitu dominan sehingga membuat hati lalai dari mengingat Allah.

Dunia seharusnya menjadi sarana untuk beribadah kepada Allah, bukan menjadi penghalang yang menjauhkan manusia dari-Nya.

Di penghujung Ramadan, penyesalan seorang hamba yang lalai oleh dunia sering kali terasa sangat dalam. Ia menyesali waktu yang telah berlalu tanpa banyak amal kebaikan. Ia menyesali kesempatan yang mungkin tidak akan datang kembali dalam hidupnya.

Namun penyesalan yang tulus sebenarnya adalah tanda bahwa hati masih hidup. Hati yang hidup akan merasa sedih ketika ia merasa jauh dari Tuhannya.

Jika penyesalan itu mendorong seseorang untuk memperbaiki dirinya, maka penyesalan tersebut justru menjadi awal dari kebaikan.

Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini mengingatkan bahwa ibadah kepada Allah tidak berhenti ketika Ramadan berakhir. Kehidupan seorang mukmin adalah perjalanan panjang untuk terus mendekat kepada-Nya.

Karena itu, meskipun Ramadan hampir berlalu, pintu taubat masih selalu terbuka. Setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan memulai langkah baru menuju kehidupan yang lebih baik.

Ramadan mungkin akan pergi, tetapi pelajaran yang dibawanya tidak boleh ikut hilang dari kehidupan kita. Biarlah penyesalan di penghujung Ramadan menjadi pengingat agar kita tidak kembali tenggelam dalam kelalaian dunia.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati manusia bukan terletak pada banyaknya harta atau keberhasilan duniawi, tetapi pada kedekatannya dengan Allah SWT.

Dan semoga ketika Ramadan benar-benar pergi, kita tidak termasuk orang-orang yang meninggalkannya dengan kelalaian melainkan dengan hati yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih rindu untuk terus mendekat kepada Allah.

Tentang Penulis :

Dr. Mochamad Sukron Amin, M.Pd merupakan Akademisi dan Dosen IAI Pangeran Dharma Kusuma Indramayu, serta Ketua ICMI Orsat Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *