INDRAMAYU, MEDIANETRAL.COM – Pagi Idul Fitri adalah pagi yang penuh cahaya. Ia bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga awal dari lembaran baru bagi setiap Muslim. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, tibalah saatnya merayakan kemenangan dengan hati yang bersih dan jiwa yang kembali kepada fitrah.
Namun, keindahan Idul Fitri tidak hanya terletak pada kemeriahan dan tradisi. Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ telah memberikan tuntunan melalui sunnah-sunnah yang sarat makna spiritual. Sunnah tersebut bukan sekadar amalan lahiriah, tetapi juga jalan untuk menghidupkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
1. Mandi dan Berhias di Pagi Hari Raya
Salah satu sunnah yang dianjurkan sebelum melaksanakan salat Id adalah mandi. Hal ini bertujuan untuk menyucikan diri dan menyambut hari raya dengan kebersihan lahir dan bathin.
Para sahabat seperti Ibnu Umar رضي الله عنه dikenal melaksanakan mandi sebelum berangkat salat Id. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kerapihan dalam menyambut momen besar.
2. Memakai Pakaian Terbaik
Rasulullah ﷺ juga menganjurkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik pada hari Idul Fitri. Ini bukan tentang kemewahan, tetapi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan.
Allah SWT berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
“Wahai anak Adam, pakailah pakaian terbaikmu setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)
3. Makan Sebelum Salat Idul Fitri
Berbeda dengan Iduladha, pada Idul Fitri disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat salat. Rasulullah ﷺ biasanya memakan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil.
Dalam hadis disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
“Rasulullah tidak berangkat pada hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma.” (HR. al-Bukhari)
Amalan ini menjadi simbol bahwa hari tersebut adalah hari berbuka dan hari kegembiraan.
4. Bertakbir Sepanjang Jalan Menuju Tempat Salat
Mengumandangkan takbir sejak malam Id hingga sebelum salat merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Takbir menjadi ungkapan syukur dan pengagungan kepada Allah atas nikmat Ramadan.
Allah SWT berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Takbir bukan hanya lantunan lisan, tetapi juga getaran hati yang menyadari kebesaran Allah.
5. Berjalan Kaki dan Mengambil Jalan Berbeda
Rasulullah ﷺ dianjurkan berjalan kaki menuju tempat salat Id dan mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan pulang.
Dalam hadis disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ
“Nabi ﷺ ketika hari raya mengambil jalan yang berbeda (antara pergi dan pulang).” (HR. al-Bukhari)
Hal ini mengandung hikmah sosial, yaitu memperluas silaturahmi dan syiar Islam.
6. Saling Mengucapkan Selamat dan Memaafkan
Tradisi saling mengucapkan selamat dan memaafkan juga memiliki nilai yang sejalan dengan ajaran Islam. Para sahabat biasa mengucapkan:
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian.”
Momen ini menjadi sarana membersihkan hati dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Ada makna mendalam disetiap sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ di pagi Idul Fitri mengandung makna yang dalam. Ia bukan sekadar ritual, tetapi sarana untuk membangun kesadaran spiritual dan sosial.
Mandi mengajarkan kesucian, berpakaian baik mengajarkan rasa syukur, makan sebelum salat mengajarkan keseimbangan, takbir mengajarkan pengagungan kepada Allah, dan silaturahmi mengajarkan kasih sayang.
Semua itu bermuara pada satu tujuan yaitu menghidupkan hati agar tetap dekat kepada Allah, bahkan setelah Ramadhan berlalu.
Penutup
Pagi Idul Fitri adalah momentum yang sangat berharga. Ia adalah waktu di mana manusia kembali kepada fitrahnya, dengan hati yang bersih dan jiwa yang lebih tenang.
Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ di hari tersebut bukan hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga menjaga cahaya Ramadan agar tetap menyala dalam kehidupan kita.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya merayakan Idul Fitri secara lahiriah, tetapi juga merasakan kedalaman maknanya dalam hati.
Biografi Penulis :
Dr. Mochamad Sukron Amin, M.Pd adalah akademisi dan dosen di IAI Pangeran Dharma Kusuma Indramayu. Ia juga menjabat sebagai Ketua ICMI Orsat Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu.









