MAJALENGKA, MEDIANETRAL.COM – Tanah liat Jatiwangi yang legendaris kini kembali naik panggung. Melalui program “Gentengisasi” yang digulirkan pemerintah, produk UMKM lokal Majalengka kini mendapat tempat terhormat sebagai material utama pembangunan perumahan rakyat. Tak main-main, komitmen transaksi dalam program ini diprediksi menyentuh angka Rp 3 miliar.
Langkah nyata ini mulai terlihat sejak Rabu (11/03/2026) malam, saat iring-iringan truk pengangkut genteng dari sentra produksi Jatiwangi mulai diberangkatkan menuju berbagai proyek perumahan. Ini bukan sekadar pengiriman logistik, melainkan pengiriman harapan bagi para pengrajin lokal.
Membangun Rumah, Menghidupkan Ekonomi. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menegaskan bahwa program ini adalah pengejawantahan arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya jelas: memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan negara untuk pembangunan rumah, juga mengalir ke kantong rakyat kecil.
“Kita harus buat sesuatu yang real buat rakyat kita. UMKM kita harus dididik punya daya saing tinggi, dan saya yakin mereka bisa,” ujar Maruarar dengan optimis.
Saat ini, sebanyak 24 truk genteng telah dipesan untuk tahap awal. Produk-produk ini akan menjadi atap bagi hunian rakyat, baik yang dibangun oleh pemerintah maupun pengembang swasta.
Menjaga Warisan, Memoles Kualitas
Genteng Jatiwangi bukan sekadar material bangunan; ia adalah kearifan lokal yang sarat nilai sejarah. Namun, di tengah besarnya kebutuhan nasional, pemerintah mengingatkan para pengrajin untuk tidak terlena.
“Jangan ragukan soal kebutuhan, karena kebutuhannya banyak sekali. Tapi bagaimana kualitas kita supaya bisa unggul dan terpercaya,” tutur Maruarar mengingatkan pentingnya standar mutu agar produk lokal tetap menjadi pilihan utama.
Target 2026: Ribuan Rumah Bersalin Rupa. Dampak ekonomi ini juga didukung oleh rencana perbaikan 1.715 unit rumah tidak layak huni di Majalengka pada tahun 2026. Selain itu, program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) juga akan menyasar sekitar 900 rumah. Secara kumulatif, kedua program perbaikan rumah ini diprediksi akan menyerap pasokan genteng lokal dengan nilai total mencapai Rp 2,5 miliar. Dengan sinergi ini, tahun 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali kejayaan genteng Majalengka di kancah nasional. Program BSPS diperkirakan membutuhkan pasokan genteng lokal dengan nilai sekitar Rp 1 miliar, sehingga semakin membuka peluang bagi pelaku UMKM di daerah tersebut.
“Tahun 2026, kami akan melaksanakan program perbaikan rumah tidak layak huni 1.715 unit,” kata Eman









