MAJALENGKA, MEDIANETRAL.COM – Ramadan bukan sekadar perihal menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah perjalanan transformasi jiwa. Saat kita berada di penghujung bulan suci ini, momen ini menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk melakukan kontemplasi mendalam atas kualitas ibadah dan hubungan antar sesama yang telah kita jalin.
Esensi Hubungan Sesama Manusia. Dalam Islam, kesempurnaan ibadah vertikal kepada Sang Pencipta harus diimbangi dengan kebaikan horizontal kepada sesama. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Barangsiapa yang meringankan satu beban kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan satu beban kesulitannya di hari kiamat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
Kearifan Lokal dalam Harmoni Idul Fitri. Nilai-nilai luhur dari hadis di atas selaras dengan filosofi masyarakat Nusantara yang menekankan pada kerendahan hati dan persaudaraan.
Dalam Budaya Sunda:
Dikenal ungkapan, “Silih asah, silih asih, silih asuh.” (Saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling melindungi). Menuju Idulfitri, semangat ini bertransformasi menjadi momen untuk saling memaafkan demi mencapai harmoni jiwa yang bersih (bening hati).
Dalam Budaya Jawa:
Terdapat filosofi, “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.” (Berjuang tanpa membawa pasukan, menang tanpa merendahkan). Kemenangan Idulfitri bukanlah kemenangan yang penuh kesombongan, melainkan kemenangan atas hawa nafsu diri sendiri dengan tetap menjaga martabat dan kehormatan orang lain melalui silaturahmi.
•Menuju Idulfitri yang Fitrah
Idulfitri adalah titik balik bagi kita untuk kembali ke fitrah. Mari kita gunakan hari-hari terakhir Ramadan ini untuk memperkuat solidaritas, memperbaiki retakan dalam hubungan profesional maupun personal, dan memastikan bahwa kita keluar dari bulan ini sebagai pribadi yang lebih bijaksana.
Mari kita sambut hari kemenangan dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan semangat untuk terus menebar manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Ust. Den muh. Firdaus”









